About me

Foto saya
the one who interfuse her rebellion with faithfulness
Feeds RSS
Feeds RSS

Senin, 17 Oktober 2011


KESENJANGAN GENDER

Dalam menjalin relasi di antara banyak individu, unsur kultural memang tidak bisa lepas di dalamnya. Memang benar jika dikatakan bahwa kultur adalah level paling rendah dalam menganalisis kepribadian dan karakteristik seseorang. Kepribadian dan karakteristik seseorang tidak bisa begitu saja dapat disimpulkan dari kultur dan budaya dimana individu tersebut berasal (saya pun sangat setuju dengan pendapat ini). Namun tanpa kita sadari juga, kita pasti sedikit banyak mempunyai pikiran berupa pendapat tentang seseorang dari kesan awal yang kita dapat dari kultur dan budayanya. 

Masalah gender yang menjadi salah satu bagian dari kultur, sepertinya juga masih sangat melekat dalam cara kita menilai dan menentukan sesuatu. Suatu waktu, saya sedang terlibat pembicaraan dengan seseorang yang satu jurusan dengan saya (dengan gender pria) mengenai prospek dari spesialisasi jurusan yang kita ambil. Tiba pada pernyataannya yang menyatakan bahwa, untuk pria,  spesialisasi jurusan sangat penting untuk  dipikirkan secara matang dan secepat mungkin diputuskan. Yang langsung tersangkut di otak saya adalah, apa maksud dari kata “untuk pria”? Jadi maksudnya, untuk wanita spesialisasi jurusan tidak penting? Mungkin dia tidak sengaja menggunakan kalimat yang terkesan sangat mendiskriminasi gender wanita itu. Tapi langsung saja pembicaraan kami tentang prospek jurusan ini beralih pada debat permasalahan tentang bagaimana posisi wanita dalam kehidupan ini.

 Dia berpendapat bahwa wanita pada akhirnya harus fokus pada posisinya sebagai ibu rumah tangga yang harus mencurahkan perhatian dan segalanya pada keluarga terutama anak. Jadi, agak kurang berguna jika wanita mencari ilmu sampai setinggi itu, karena ilmu yang dia cari tidak dibutuhkan untuk kemampuannya dalam posisi ibu rumah tangganya di masa depan. Pada waktu itu yang ingin saya ucapkan adalah : “jadi maksudnya, seharusnya wanita menuntut ilmu di sekolah dan perguruan tinggi dengan jurusan yang berprospek menjadi IBU RUMAH TANGGA?”

Menurut saya, benar sekali bahwa wanita, pada akhirnya harus total dalam menjalankan perannya sebagai ibu yang harus mengurus dam memperhatikan keluarganya. Saya juga setuju dan bangga bahwa nanti pada akhirnya saya akan menjadi seperti itu, karena menurut saya peran ibu rumah tangga sangatlah mulia dan penting untuk keluarganya. Tetapi bukannya itu hanya pada akhirnya? Yaitu pada saatnya nanti jika wanita itu sudah berkeluarga dan perannya sebagai seseorang yang sangat bertanggung jawab pada kehidupan keluarganya sudah benar – benar harus dia jalankan. Namun, pada usia yang masih seperti ini, yaitu pada usia belajar dan produktif, apakah seorang wanita itu sudah harus dicap di jidatnya bahwa kelak dia akan menjadi ibu rumah tangga? Bukan berarti jika pada akhirnya wanita pasti menjadi ibu rumah tangga, dia tidak pantas untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman seperti layaknya pria kan? Paling tidak, pada usianya yang masih berstatus sebagai pemuda, wanita juga pantas diberi kesempatan untuk menggali dan mengembangkan ilmu. Wanita juga pantas diberi kesempatan untuk meraih prestasi. Wanita juga pantas diberi kesempatan untuk meraih penghargaan untuk hasil kerjanya yang juga bukan tidak mungkin bisa menyaingi pria.

Yang saya herankan, kenapa masih ada saja orang yang berpikiran seperti itu, terlebih yang berpikiran seperti itu adalah  mahasiswa.  Plis deh (bahasa kerennya), bukankah sudah lama diakui hak wanita untuk mendapat perlakuan yang sama dengan pria? Boleh jadi jika di masa depannya, kedudukan wanita dan pria itu berbeda, yaitu pria menjadi individu yang bersaing dan berkembang dalam pekerjaan dengan berbagai macam profesinya, dan wanita hanya (sebenarnya saya kurang setuju jika profesi ibu rumah tangga diawali dengan kata ‘hanya’) menjadi ibu rumah tangga. Tapi pada masa sekarang, pada usianya, pria dan wanita mempunyai status yang sama, yaitu sebagai pemuda.

0 komentar:

Posting Komentar