KESENJANGAN GENDER
Dalam
menjalin relasi di antara banyak individu, unsur kultural memang tidak bisa
lepas di dalamnya. Memang benar jika dikatakan bahwa kultur adalah level paling
rendah dalam menganalisis kepribadian dan karakteristik seseorang. Kepribadian
dan karakteristik seseorang tidak bisa begitu saja dapat disimpulkan dari
kultur dan budaya dimana individu tersebut berasal (saya pun sangat setuju dengan
pendapat ini). Namun tanpa kita sadari juga, kita pasti sedikit banyak
mempunyai pikiran berupa pendapat tentang seseorang dari kesan awal yang kita
dapat dari kultur dan budayanya.
Masalah
gender yang menjadi salah satu bagian dari kultur, sepertinya juga masih sangat
melekat dalam cara kita menilai dan menentukan sesuatu. Suatu waktu, saya
sedang terlibat pembicaraan dengan seseorang yang satu jurusan dengan saya
(dengan gender pria) mengenai prospek dari spesialisasi jurusan yang kita
ambil. Tiba pada pernyataannya yang menyatakan bahwa, untuk pria, spesialisasi jurusan sangat penting
untuk dipikirkan secara matang dan
secepat mungkin diputuskan. Yang langsung tersangkut di otak saya adalah, apa
maksud dari kata “untuk pria”? Jadi maksudnya, untuk wanita spesialisasi
jurusan tidak penting? Mungkin dia tidak sengaja menggunakan kalimat yang
terkesan sangat mendiskriminasi gender wanita itu. Tapi langsung saja
pembicaraan kami tentang prospek jurusan ini beralih pada debat permasalahan
tentang bagaimana posisi wanita dalam kehidupan ini.
Dia berpendapat bahwa wanita pada akhirnya
harus fokus pada posisinya sebagai ibu rumah tangga yang harus mencurahkan perhatian
dan segalanya pada keluarga terutama anak. Jadi, agak kurang berguna jika
wanita mencari ilmu sampai setinggi itu, karena ilmu yang dia cari tidak
dibutuhkan untuk kemampuannya dalam posisi ibu rumah tangganya di masa depan.
Pada waktu itu yang ingin saya ucapkan adalah : “jadi maksudnya, seharusnya wanita
menuntut ilmu di sekolah dan perguruan tinggi dengan jurusan yang berprospek
menjadi IBU RUMAH TANGGA?”
Menurut
saya, benar sekali bahwa wanita, pada akhirnya harus total dalam menjalankan perannya
sebagai ibu yang harus mengurus dam memperhatikan keluarganya. Saya juga setuju
dan bangga bahwa nanti pada akhirnya saya akan menjadi seperti itu, karena
menurut saya peran ibu rumah tangga sangatlah mulia dan penting untuk
keluarganya. Tetapi bukannya itu hanya pada akhirnya? Yaitu pada saatnya nanti
jika wanita itu sudah berkeluarga dan perannya sebagai seseorang yang sangat
bertanggung jawab pada kehidupan keluarganya sudah benar – benar harus dia
jalankan. Namun, pada usia yang masih seperti ini, yaitu pada usia belajar dan
produktif, apakah seorang wanita itu sudah harus dicap di jidatnya bahwa kelak dia akan menjadi ibu rumah tangga? Bukan
berarti jika pada akhirnya wanita pasti menjadi ibu rumah tangga, dia tidak
pantas untuk mendapatkan pendidikan dan pengalaman seperti layaknya pria kan?
Paling tidak, pada usianya yang masih berstatus sebagai pemuda, wanita juga
pantas diberi kesempatan untuk menggali dan mengembangkan ilmu. Wanita juga
pantas diberi kesempatan untuk meraih prestasi. Wanita juga pantas diberi
kesempatan untuk meraih penghargaan untuk hasil kerjanya yang juga bukan tidak
mungkin bisa menyaingi pria.
Yang
saya herankan, kenapa masih ada saja orang yang berpikiran seperti itu,
terlebih yang berpikiran seperti itu adalah
mahasiswa. Plis deh (bahasa kerennya), bukankah sudah lama diakui hak wanita
untuk mendapat perlakuan yang sama dengan pria? Boleh jadi jika di masa
depannya, kedudukan wanita dan pria itu berbeda, yaitu pria menjadi individu
yang bersaing dan berkembang dalam pekerjaan dengan berbagai macam profesinya,
dan wanita hanya (sebenarnya saya kurang setuju jika profesi ibu rumah tangga
diawali dengan kata ‘hanya’) menjadi ibu rumah tangga. Tapi pada masa sekarang,
pada usianya, pria dan wanita mempunyai status yang sama, yaitu sebagai pemuda.


0 komentar:
Posting Komentar